Jatin Banga, seorang peneliti keamanan, melaporkan temuan celah keamanan di Instagram kepada Meta pada 12 Oktober 2025. Dia menegaskan, meski masalah yang dilaporkan dianggap sebagai isu caching oleh Meta, kenyataannya jauh lebih serius dan berkaitan dengan sistem izin akses Instagram.
Ketidakpuasan Banga terhadap penilaian tersebut mendorongnya untuk mengajukan laporan kedua. Ia berusaha menjelaskan lebih mendalam mengenai asal mula masalah ini, meskipun tidak mendapatkan tanggapan yang sesuai harapan dari Meta.
Akhirnya, laporan tersebut ditutup dengan status “tidak berlaku,” yang membuat Banga merasa frustrasi. Ia yakin bahwa celah keamanan yang ditemukan harus mendapat perhatian lebih serius dari pihak pengembang.
Proses Pelaporan dan Tindak Lanjut yang Tidak Memuaskan
Setelah mengirimkan laporan pertama, Banga terlibat dalam diskusi panjang dengan tim Meta yang berfokus pada perbaikan masalah. Namun, diskusi tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan, menyebabkan Banga merasa diabaikan.
Meskipun Meta menilai masalah tersebut berkaitan dengan sistem caching, Banga berpendapat sebaliknya. Menurutnya, masalah tersebut muncul akibat kegagalan sistem dalam memeriksa izin akses dengan benar sebelum memberikan respons kepada pengguna.
Pengalaman Banga menunjukkan betapa kompleksnya proses pelaporan bug di sebuah platform besar. Bahkan setelah memberikan informasi dan bukti pendukung, penelitinya mengalami kendala dalam meyakinkan pihak pengembang untuk menyelidiki lebih lanjut.
Celah Keamanan yang Ditemukan dan Dampaknya
Banga mengungkapkan bahwa celah keamanan ini berhenti berfungsi sekitar 16 Oktober 2025. Namun, dampak dari masalah ini bisa sangat signifikan, terutama jika diabaikan.
Ia merasa telah memberika waktu yang cukup bagi Meta untuk melakukan perbaikan, tetapi tidak ada tindak lanjut yang memadai setelah laporan tertutup. Tanpa penanganan yang tepat, potensi kebocoran data bagi pengguna Instagram tetap menjadi kekhawatiran.
Dari sudut pandang keamanan siber, kejadian ini menyoroti pentingnya sistem yang bisa dipercaya dalam memproteksi data pengguna. Kegagalan sistem dalam memeriksa akses dapat menjadi celah yang mengancam privasi individu.
Pentingnya Transparansi dalam Penanganan Bug
Kasus ini menegaskan bahwa perlunya transparansi dalam proses penanganan bug di platform digital. Pengguna dan peneliti keamanan harus merasa didengar saat melaporkan masalah potensial yang merugikan banyak orang.
Banga membagikan dokumentasi dan bukti teknis untuk mendukung temuannya. Ini menunjukkan komitmennya pada keamanan global dan tanggung jawab dari setiap individu dalam menjaga integritas data.
Sayangnya, banyak platform sering kali menutup mata terhadap masalah yang dilaporkan atau meremehkan dampaknya. Proses yang berlarut-larut dan tidak memuaskan dapat mengakibatkan semakin banyaknya celah keamanan yang tidak teratasi.
